Tampilkan postingan dengan label Cerita Singkat. Tampilkan semua postingan

Part VI

Tubuhku masuk kedalam kaca. Ruangan ini putih. Kulangkahkan kakiku sekali. Ruangan yang sangat putih. Kulangkahkan lagi. Tenagaku tiba-tiba menghilang. Aku terjatuh. Jantungku berhenti. Nafasku tercekat. Tidak berhembus sama sekali. Aku kembali menjadi boneka tali.

Aku panik. Tak ada yang bisa kulakukan. Aku panik! Tidak! Aku harus tenang. Pasti ada cara. Tubuhku mulai berubah transparan. Menghilang? Sial! Aku tidak memperkirakannya! Sekarang aku benar-benar panik. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus kembali. Sebelum aku mati disini. Tidak, sebelum aku ‘dihilangkan’ disini.

Tubuhku tak mau bergerak sama sekali. Tidak bahkan satu jaripun. Aku bahkan bisa melihat menembus tanganku sekarang. Apa aku akan mati? Tidak, apa aku akan ‘hilang’? Aku benar-benar tak bisa berpikir sekarang. Aku sudah tak panik. Perasaan itu ‘hilang’ entah kemana. Aku tak merasa takut. Juga tak merasa tenang. Aku sudah tak merasakan apa-apa.

Tunggu, aku masih bisa merasakan sesuatu. Derap langkah kaki. Cepat. Melesat begitu saja melewatiku. Dia berlari menembus kaca. Dia mengambil alih tempatku. Seketika, tubuhku terangkat. Benang-benang itu mengangkatku. Mengendalikanku. Membuatku menghadap ke arah kaca. Kulihat dia dengan jelas. Kakakku.Tubuhku masuk kedalam kaca. Ruangan ini putih. Kulangkahkan kakiku sekali. Ruangan yang sangat putih. Kulangkahkan lagi. Tenagaku tiba-tiba menghilang. Aku terjatuh. Jantungku berhenti. Nafasku tercekat. Tidak berhembus sama sekali. Aku kembali menjadi boneka tali.

Aku panik. Tak ada yang bisa kulakukan. Aku panik! Tidak! Aku harus tenang. Pasti ada cara. Tubuhku mulai berubah transparan. Menghilang? Sial! Aku tidak memperkirakannya! Sekarang aku benar-benar panik. Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus kembali. Sebelum aku mati disini. Tidak, sebelum aku ‘dihilangkan’ disini.

Tubuhku tak mau bergerak sama sekali. Tidak bahkan satu jaripun. Aku bahkan bisa melihat menembus tanganku sekarang. Apa aku akan mati? Tidak, apa aku akan ‘hilang’? Aku benar-benar tak bisa berpikir sekarang. Aku sudah tak panik. Perasaan itu ‘hilang’ entah kemana. Aku tak merasa takut. Juga tak merasa tenang. Aku sudah tak merasakan apa-apa.

Tunggu, aku masih bisa merasakan sesuatu. Derap langkah kaki. Cepat. Melesat begitu saja melewatiku. Dia berlari menembus kaca. Dia mengambil alih tempatku. Seketika, tubuhku terangkat. Benang-benang itu mengangkatku. Mengendalikanku. Membuatku menghadap ke arah kaca. Kulihat dia dengan jelas. Kakakku.

Part V

Aku menjauh dari kaca selama berhari-hari. Bukan hanya kaca, segala yang memantulkan bayangan kuusir jauh-jauh. Aku bahkan tidak berani meminum air. Karena aku tahu jelas apa yang dia katakan saat itu. Aku bisa membaca bibirnya. Apa maksudnya dia mengatakan itu sekarang?

Luka itu masih ada. Kusentuh berkali-kali. Aku masih tak mengerti arti dari semua ini. Namun, aku tahu satu hal. Aku berada dalam tubuh kakakku. Kusentuh lagi luka itu. Tubuhku terjebak di dalam kaca. Aku masih menyentuh luka itu. Dan kakakku memakai tubuhku.

Aku tak bisa tenang. Siapa yang bisa tenang? Aku sama sekali tidak tidur berhari-hari. Aku tak ingin kembali ke mimpi itu. Obat-obatan juga tidak berguna. Mereka hanya memperburuk situasi. Aku tak punya pilihan lagi.

Tunggu, aku masih punya satu. Aku masih punya satu pilihan lagi. Aku bangkit. Kulangkahkan kakiku ke kamar mandi. Walau dengan begitu, aku mungkin melanggar apa yang dia katakan. Kutetapkan hati. Aku lelah menunggu. Biar kulawan apa yang akan datang. Walau dengan begitu, aku mungkin terluka lagi.

Cermin itu tidak memantulkan bayanganku. Kucoba memasukkan tanganku kedalamnya. Aku menelan ludah. Dugaanku benar. Baiklah, aku akan masuk. Aku akan masuk. Jantungku berdebar kencang. Aku akan masuk kesana. Kakiku gemetar. Aku akan kesana. Aku akan berada disana. Aku akan terjebak disana. Kutelan ludahku. Aku sudah disana.

Part IV

Aku terbangun. Jantungku berdegup dengan kencang. Nafasku tersengal-sengal. Keringat mengalir deras. Itu hanya mimpi. Benar, hanya sebuah mimpi. Aku mengusap rambutku. Menggenggam erat seprai kasur. Menenangkan diri. Melirik jam Analog di samping kasur. Aku terbangun  pukul 3 pagi.

Apa yang akan kulakukan sekarang? Aku tak ingin kembali tidur. Tak ingin kembali ke mimpi itu. Tak ingin mengetahui jika itu bukanlah mimpi. Aku memutuskan untuk mandi. Menyegarkan pikiran. Aku melepas seluruh pakaianku tanpa terkecuali. Lalu berjalan memasuki kamar mandi.

Aku tersentak. Tubuh itu. Tubuh yang berada di dalam kaca itu. Tubuhku. Terdapat sayatan benang di tubuhku. Banyak. Sangat banyak. Refleks, kupegang leherku. Ada! Sangat terasa di ujung jari. Sebuah luka bekas gigitan. Luka yang sangat dalam. Luka itu tidak muncul di cermin.

Aku terjatuh. Aku kaget. Bukan karena luka itu, melainkan bayanganku. Dia terdiam. Dia berdiri. Dia menatapku. Dia mengatakan sesuatu. Aku tak bisa mendengarnya. Dia menghilang.
Welcome to My Blog

Popular Post

Chatango

Kontributor

Mabo and Gibo. Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Mabo and Gibo -Robotic Notes- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -